BHAGA ; SIMBOL NENEK MOYANG ETNIS NGADA - FLORES

bhaga

Bhaga adalah salah satu simbol budaya masyarakat Ngada di Pulau Flores. Bhaga adalah pasangan dari Ngadhu, Seperti ngadhu adalah tempat suci bapa asal, demikian bhaga adalah tempat suci ibu asal. Apabila di dirikan sebuah ngadhu untuk bapa asal, maka harus di dirikan pula sebuah bhaga  untuk ibu asal. Oleh sebab itu, jumlah bhaga dalam satu kampung selalu sama dengan jumlah ngadhu. Bhaga harus di dirikan sebelum ngadhu yang sebenarnya. Demikian juga dalam setiap persembahan atau pada setiap kesempatan ketika leluhur laki-laki dan leluhur perempuan di sebut bersama-sama, maka yang perempuan harus di sebut terlebih dahulu. Pada umumnya, bhaga  di bangun sama seperti bentuk setiap rumah kediaman biasa. Hanya di banyak tempat tidak ada serambi depan, sedangkan di kampung lain tidak ada dinding papan yang dapat  di dorong ke dalam. Di dalamnya selalu ada  tungku perapian,  karena pada pesta-pesta besar  biasanya di  masak makanan  di tempat itu . kerap kali di gunakan sebagai tempat penyimpanan tanduk-tanduk  dcan kepala kerbau. Baik bagian dalam maupun bagian luar di hiasi dengan ukiran-ukiran yang indah , yang dapat di buat oleh   orang di kampung itu. Pada bagian dalam dari balok-balok banyak di temukan gambar benda-benda  yang tidak di temukan dalam ngadhu dan yang sekarang  tidak di kenal lagy, terutama lembing dan keris, di samping ular, ayam jantan, daun-daun dan sulur-sulur.apabila dalam sebuah kampung ada banyak bhaga , maka biasanya di dirikan dalam baris yang teratur, sejauh di mungkinkan oleh tempat, seperti juga rumah-rumah dalam kampung pada umumnya  didirikan berbaris. Cara membangun sebuah bhaga  hampir sama dengan cara membangun  sebuah rumah diam yang biasa.  Sesudah di tanam pohon dhero , seperti halnya ketika mendirikan ngadhu, oleh para anggota suku di bunuh kerbau dan babi untuk memberkati alat-alat yang akan di pakai ketika menebang pohon, sama seperti yang di lakukan  dalam proses pembangunan ngadhu. Menghantar persembahan serta melumuri alat-alat itu dengan dara hewan. Sesudah, itu dikumpulkan  batu-batu yang akan menjadi ture bhaga_ alas bhaga. Apabila ture bhaga sudah selesai di kerjakan, di bunuh lagi  kerbau untuk merayakan pembangunan bagian bawah ini. Sesudah itu  di datangkan kayu yang perlu, dan di didirikan kerangka tiang dan balok-balok bhaga, rusuk-rusuk atap dan hu hubungan, dan sebagai variasi di bunuh babi untuk di persembahan dan di makan. Sementara para anggota suku menyanyikan nyanyian  duga di dalam bhaga, orang- orang dari kampung yang lain berkumpil di depan bhaga, menari dan menyanyikan nyanyian teke. Sejumlah nyanyian ini dapat di temukan dalam kumpulan nyanyi.orang menyanyi dan menari sepanjang malam. Pada pagi hari di bunuh babi dan di persembahan dengan do’a permohonan yang biasa yang di sebut_pai dhea.  Sedudah itu bhaga di atapi, lalu ada lagi perayaan yang besar. Para anggota suku menyumbangkan ayam dan babi, sedang para tua-tua suku menyumbangkan kerbau. Baru kemudian dirayakan pesta bhaga bersama pesta ngadhu, seperti sudah di kemukakan pada pembicaraan tentang ngadhu hal-hal yang religius, terutama persembahan, pada umumnya sama, seperti yang sudah di gambarkan.pada banyak bhaga di gambarkan sebuah kepingan mera, yang di sebut: bhege_bheo cahaya yang bundar, kepingan yang terang, yang barangkali berasal dari kultus matahari.

flores komodo tour