NGADHU ; SIMBOL NENEK MOYANG ETIS NGADA DI PULAU FLORES

ngadhu
NGADHU

Ngadhu  ialah benda kultus  yang paling menarik dan paling penting  yang ada di dalam kampung masyarakat etnis Ngada di Pulau Flores – Indonesia. Ngadu terdiri dari suatu  tiang persembahan, terbuat dari kayu yang besar. Mengenai maksudnya ngadhu dalam kehidupan orang ngada sebuah  mitos mengatakan  sesorang leluhur yang bernama seka  pergi ke cina untuk mencari seorang istri, yang kemudian di bawanya pulang dan di kenal sebagai ine sina. Bersama dengan istrinya  di bawanya juga benih pohon bebu [ sejenis pohon yang  kuat], yang kemudian di taburkanya di daerah-daerah panas. Batang-batang pohon ini kemudian menjadi tiang persembahan. Alasan untuk mendirikan  sebuah ngadhu dapat saja karena kesakitan orang yang hendak mendirikanya. Dengan ngadhu itu ia hendak mempertahankan kenangan akan seorang leluhur dan mengharapkan bantuannya  secara tetap. Ngadhu itu di beri nama leluhur yang  hendak di kenang itu dan ngadhu  ini pin hendak di sucikan dan di persembahan kepadanya. Tentu dalam hal ini juga ada unsure pamer dan kekayaan. Karena hanya orang yang kaya dapat mendirikan sebuah ngadhu, lantaran biyaya yang  harus di keluarkan  cukup tinggi. Dengan demikian orang dapat mengetahui kekayaanya dan akan selalu berkumandang  pujian baginya dalam nyanyian. Kerap kali pembangunan ngadhu di sebabkan oleh adanya penyakit, atau ada orang gila dalam keluarga atau suatau bencana lain dalam suku atau keluarga. Apabila dengan divinasi tibo diketahui salah seorang leluhur telah menyebabkan  bencana tertentu itu, dan dia telah menyatakan kehendaknya agar di dirikan sebuah ngadhu untuknya, maka sesudah berunding dengan anggota-anggota suku, terutama dengan tua-tua suku, para pemuka memutuskan untuk mendirikan sebuah ngadhu. Karena persiapan-persiapan yang  perlu membutuhkan waktu, maka sebagai gantinya untuk sementara di tanam  satu batang pohon dhero_ sejenis dadap,yang dapat bertumbuh cepat dan dapat menjadi pelindung untuk tanaman yang kurang tahan panas. Sesudah itu, pemuka suku memerintahkan semua anggota suku untuk menyediakan kerbau dan babi yang di perlukan guna menyucikan parang dan kapak yang akan di pakai ketika menebang pohon yang akan di jadikan ngadhu dan mengolesnya untuk urusan yang penting ini. Sejak pada kesempatan ini harus di bunuh beberapa ekor kerbau dan sekitar seratus ekor babi. Binatang-binatang itu di  bunuh,dagingnya di masak dan di persembahkan pada lesa bui  dan sesudah itu kapak dan parang di lumuri dengan darah binatang persembahan_ di kenal dengan istilah: sewu taka topo_ dengan demikian di resmikan untuk di pakai menebang pohon. Sesudah persembahan di bagikan nasi dan daging,yang sebagiannya di makan  di tempat pesta, sedang bagian lain di bawa untuk mereka yang tinggal  rumah. Sebelum kembali ke rumah masing-masing, orang yang mendirikan ngadhu itu menyampaikan perintah kepada semua laki-laki yang berkumpul di situ, supaya pada hari-hari berikudnya pergi bersama kepala kampung mereka  untuk mencari satu batang pohon yang bagus dan menebangnya untuk di jadikan ngadhu. Orang itu membawa serta sekor babi , untuk di persembahkan di depan pohon yang akan di tebang dan akan di makan bersama dengan mereka yang akan menebang pohon,agar mereka kuat melakukan tugasnya. Apabila sudah di temukan satu batang pohon yang sesuai, pertama-tama di lemparkan kepadanya satu butir telur ayam, lalu di tikam dengan sebatang tombak. Apabila darah_ cairan pohon yang berwarna merah_ mengalir keluar maka itulah pohon yang dicari, yang harus  di gali hingga ke akarnya. Jika tidak ada cairan merah yang keluar, maka harus di cari pohon yang lain. Jika sudah di temukan maka babi itu, di bunuh dan di persembahkan lalu di makan. Sesudah itu di potong cabang-cabang pohon tersebut. Hanya dua dahan yang di biarkan, sehingga berbentuk seperti sebuah garpu, yang oleh orang asli di namakan zegu_ tanduk. Sesudah itu kulit pohon itu di kupas. Jika pada saat itu di temukan cacat pada pohon itu, maka harus di cari pohon yang lain. Pohon yang sudah di kuliti itu di bungkus dengan kain yang berwarna warni atau yang merah agar tidak dingin. Sesudah itu di buat tandu dari bamboo, agar banyak orang dapat memikulnya. Salah seorang dari mereka pulang ke kampung untuk menyampaikan kepada mereka yang ada di kampung, bahwa sudah di temukan sebuah ngadhu. Karena itu, mereka harus mempersiapkan diri, menumbuk padi untuk pesta , lalu memasaknya, menyiapkan tuak yang di perlukan, sesudah itu pergi menjemput ngadhu dan mengaraknya ke kampung. Orang yang mendirikan ngadhu itu menyuruh orang untuk membawa lagi beberapa ekor babai untuk di persembahkan pada tempat perhentian yang sudah di tentukan sebelumnya. Ketika orang  yang dating dari kampung sudah bertemu dengan ngadhu, beteriaklah mereka dengan girang akan tetapi perempuan tidak boleh terlalu mendekatinya. Sebagai alasan di ceritakan riwayat: dulu kala di adakan suatu perayaan ngadhu. Saat itu semua orang sedang bernyanyi dan menari. Seorang gadis menjauhkan diri dari keramaian orang banyak lalu mendekati ngadhu karena ingin tau. Tiba-tiba ngadhu itu berubah menjadi seorang laki-laki dan bersetubuh dengan gadis yang terlalu berani mendekati ngadhu itu. Gadis itu kembali ke kampung dan menceritakan kejadian itu kepada orangtuanya. Tetapi pada saat itu juga ia meninggal. Karena itu, apabila orang pergi menjemput ngadhu dan melihatnya untuk pertama kali, para perempuan di awaskan untuk tidak menghampiri ngadhu. Setibanya di tempat peristirahatan, pendiri ngadhu itu membagi-bagikan nasi dan daging kepada orang-orang yang memikul ngadhu,  agar mereka menjadi kuat. Sesudah itu,  semua orang di panggil berkumpul untuk mengadakan persembahan. Lalu mereka makan. Selanjutnya, ngadhu di pikul sampai ke dekat kampung  dan di letakan di tempat yang sudah di tunjukan oleh orang yang mendirikan ngadhu itu, tetapi mash tetap terbungkus dengan kain merah, agar ngadhu itu tidak kedinginan. Sebelum semua orang pulang ke rumah, di tentukan satu hari untuk membawa  ngadhu itu ke dalam kampung. Dan sebelum itu sudah harus di siapkan tuak yang perlu untuk satu perayaan. Dan pada hari yang sudah di tentukan, semua orang dari dekat  atau orang-orang yang mempunyai satu hubungan dengan dating untuk bersama-sama mengarak ngadhu itu masuk ke dalam kampung

flores komodo tour